Sejarah

Kedengkian Iblis
Iblis yang berasal dari bangsa jin merasa dengki terhadap bangsa manusia sudah ada sejak awal adanya Nabi Adam. Allah berfirman:
"Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; Maka hendaklah kalian tersungkur dengan bersujud kepadanya".
Lalu seluruh malaikat-malaikat itu bersujud semuanya. Namun Iblis enggan bersujud. Allah berfirman:
"Hai iblis, Apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?"
 Iblis berkata:
"Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah".
Allah berfirman:
"Maka keluarlah kamu dari surga; Sesungguhnya kamu adalah orang yang terkutuk, Sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari pembalasan".
Iblis berkata:
"Ya Tuhanku, beri tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan".
Allah berfirman:
"Sesungguhnya kamu Termasuk orang-orang yang diberi tangguh, sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya (hari kiamat)".
 Iblis menjawab:
"Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang memurnikan ketaatan di antara mereka.”
Berhala Pada Jaman Nabi Nuh
Wadd, Suwa', Yaghust, Ya'uq dan Nasr adalah nama-nama orang-orang shalih dari kaum Nabi Nuh. Ketika mereka meninggal dunia, setan membisikkan kepada kaumnya agar mereka membuat patung orang-orang shalih tersebut di tempat-tempat duduk mereka, dan agar memberinya nama sesuai dengan nama-nama mereka. Maka mereka pun melakukan perintah setan tersebut. Pada awalnya, patung-patung itu tidak disembah. Tetapi ketika mereka semua sudah meninggal dan ilmu telah diangkat, mulailah patung-patung itu disembah oleh orang-orang setelahnya.

Berhala di Kota Makkah

Nabi Ismail mengajarkan tauhid di Kota Makkah. Namun sepeninggal Nabi Ismail, mayoritas penduduk Makkah mulai lupa banyak hal mengenai Tauhid. Kemudian muncullah Amru bin Luhai, pemimpin Bani Khuza'ah. Dia dikenal suka berbuat kebajikan, bershadaqah dan respek terhadap urusan-urusan agama, sehingga semua orang mencintainya.

kisah, nabi, muhammad, silsilahDia melihat penduduk Syam menyembah berhala dan menganggap hal itu sebagai sesuatu yang baik. Maka dia pulang sambil membawa Hubal dan meletakkannya di dalam ka'bah. Kemudian mengajak penduduk Makkah untuk menjadikan sekutu bagi Allah. Orang-orang Hijaz pun banyak yang mengikuti penduduk Makkah karena mereka dianggap sebagai pengawas Ka'bah.

Penduduk Makkah sangat marah setelah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam berda’wah secara terang-terangan, menjelaskan tauhid serta mencela kepercayaan dan tradisi nenek moyang yang mereka bangga-banggakan, dan yang membuat mereka dimuliakan oleh suku-suku lainnya.

Allah mengutus Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam kepada mereka, dan diwajibkan kepada seluruh jin dan manusia untuk mentaatinya. Beliau lahir di Makkah, berasal dari Suku Quraisy keturunan dari Nabi Ismail putra Nabi Ibrahim. Beliau Shallallahu 'alaihi wasallam berda’wah selama 13 tahun di Makkah dan setelah hijrah beliau berda’wah 10 tahun di Madinah.

Beberapa kelompok masyarakat waktu itu adalah sebagai berikut:

kisah, sejarah, nabi, muhammad,

1. Kaum Mu'minin

Turunnya Al Quran secara berangsur-angsur memudahkan Kaum Mu'minin dalam memahami dan mengamalkannya. Ketika di Makkah, mereka ditekan, dilecehkan dan diusir. Mereka belum bisa membangun masyarakat yang Islami. Oleh karenanya, ayat-ayat Al Quran yang turun di Makkah hanya berkisar masalah mendasar seperti: aqidah, akhlaq mulia, menentang kemusyrikan dan penyembahan berhala, kisah-kisah para nabi dan umat-mat terdahulu untuk meneguhkan hati kaum Mu’minin serta menjelaskan balasan baik bagi mereka yang bertaqwa dan balasan buruk bagi mereka yang kafir.

Sedangkan ketika Kaum Mu’minin telah hijrah ke Madinah, mereka sudah bisa membangun masyarakat dan negara. Oleh karenanya, ayat-ayat Al Quran yang turun di Madinah selain masalah aqidah juga membahas tentang ketentuan-ketentuan hukum syariat dalam urusan pribadi, keluarga, masyarakat dan negara baik bidang ekonomi, polititik maupun jihad dalam menghadapi musuh.

2. Kaum Musyrikin

Orang-orang Kafir Quraisy masih menganggap dirinya menganut agama Ibrahim dan masih mengakui bahwa Allah-lah Pencipta alam semesta. Tapi mereka menjadikan sebagian makhluk sebagai perantara antara mereka dengan Allah. Para perantara itu terdiri dari para malaikat dan orang-orang shalih. Mereka berdalih, “Kami ingin agar mereka lebih mendekatkan kami kepada Allah, kami ingin syafa'at mereka di sisi Allah.”

3. Kaum Munafiqin

Nifaq ada dua macam: Besar dan kecil. Nifaq yang besar mengakibatkan kekekalan di dalam neraka dan berada di lapisan paling bawah. Kaum Munafiqun menisbatkan diri kepada Islam, menunjukkan loyalitas kepada Islam, padahal hakikatnya mereka adalah musuh Islam.

Sebelum Kaum Muslimin hijrah ke Madinah dan masih tertindas di Makkah, mereka belum muncul. Namun ketika da’wah Islam sudah menunjukkan tanda-tanda kemenangan mereka berpura-pura menunjukkan keislaman. Ketika mereka bertemu orang-orang yang beriman, mereka berkata bahwa mereka beriman. Namun jika mereka bertemu pemimpin-pemimpin mereka, mereka mengatakan, “Sesungguhnya kami sependirian denganmu, kami hanyalah mengolok-olok Muhammad dan sahabat-sahabatnya.”

4. Kaum Yahudi

Bangsa Israel atau bangsa Yahudi adalah anak keturunan Israil (nama lain dari Nabi Yakub bin Ishak bin Ibrahim a.s.) Banyak Rasul telah diutus untuk bangsa Yahudi, tetapi hanya sedikit dari bangsa tersebut yang beriman. Bahkan merekalah yang paling keras memusuhi kaum Mu’minin. Kekafiran kaum Yahudi berpangkal dari sikap tidak mau melaksanakan hal-hal yang telah mereka ketahui. Mereka suka menipu dan merekayasa kejahatan dengan menyelewengkan firman Allah serta merubahnya untuk mengelabui dan menyesatkan orang lain. Mereka menulis banyak kebohongan dan menisbatkan hal itu kepada Allah, sebagai sarana untuk mendapatkan keuntungan duniawi.

Allah SWT mengingatkan bangsa Yahudi tentang beberapa peristiwa yang pernah dialami oleh para pendahulu mereka, agar mereka bisa mengambil pelajaran darinya. Allah SWT mengingatkan bahwa Dia telah memberikan Kitab Taurat kepada Nabi Musa, untuk dijadikan panduan hidup bagi Bangsa Israel. Dan mengutus rasul-rasul berturut-turut setelah Musa. Tetapi setiap rasul yang datang tidak sesuai dengan keinginan mereka, maka mereka mendustakannya, bahkan beberapa orang rasul mereka bunuh.

Ketika mereka diajak untuk beriman kepada Al Quran, mereka merasa tidak membutuhkan keimanan yang baru, karena mereka sudah beriman sebelumnya kepada wahyu yang diturunkan Allah dalam Kitab Taurat. Maka Allah memerintahkan Rasulullah menjawab, “Mengapa dahulu kalian membunuh nabi-nabi Allah sebelumnya, jika benar kalian orang-orang yang beriman?”

5. Kaum Nashrani

Kekafiran kaum Nasrani berpangkal dari sikap mereka yang suka beramal tanpa ilmu. Mereka suka melakukan berbagai macam ibadah yang tidak ada tuntunannya dari syari‘at Allah, mereka suka berdusta atas nama Allah atas hal-hal yang tidak mereka ketahui. Mereka mengatakan bahwa Nabi Isa as adalah anak tuhan. Mereka juga mempertuhankan Nabi Isa as dan ibunya.

Sekelompok utusan Nashrani dari Najran menghadap dan mendebat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, “Setiap anak manusia mempunyai bapak, tetapi mengapa Isa tidak memiliki bapak?” Maka Allah menurunkan firman-Nya, “Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: "Jadilah" (seorang manusia), Maka jadilah dia.”

Ketika mereka berulangkali mendebat dan membantah Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam dalam masalah ini, maka Allah SWT menunjukkan beliau jalan keluar dari perdebatan mereka dengan mengajak ber-mubahalah, yaitu mereka semua dikumpulkan, lalu mereka mengatakan, “Ya Allah, laknatlah siapa yang berdusta di antara kami.”

Maka besoknya Rasulullah datang dengan disertai Hasan, Husain dan Fatimah. Orang-orang Nashrani yang sebenarnya sudah mengetahui kebenaran tersebut tidak berani untuk datang. Karena jika mereka datang untuk bermubahalah, merekalah yang akan mati. Ini adalah bukti bahwa mereka sebenarnya tidak meyakini apa yang mereka katakan sendiri.